Tampilkan postingan dengan label puasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puasa. Tampilkan semua postingan

Puasa Asyura

Dari Abu Qotadah al-Anshory Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah ditanya mengenai puasa hari Arafah, lalu beliau menjawab: "Ia menghapus dosa-dosa tahun lalu dan yang akan datang." Beliau juga ditanya tentang puasa hari Asyura, lalu beliau menjawab: "Ia menghapus dosa-dosa tahun yang lalu." Dan ketika ditanya tentang puasa hari Senin, beliau menjawab: "Ia adalah hari kelahiranku, hari aku diutus, dan hari diturunkan al-Qur'an padaku." Riwayat Muslim

Aisyah r.a. berkata, "Pada hari Asyura orang-orang Quraisy biasa berpuasa pada masa jahiliah, dan Rasulullah berpuasa juga. Ketika itu tiba di Madinah, beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan untuk berpuasa pada hari Asyura itu (sebelum difardhukannya puasa Ramadhan, dan pada hari itu Ka'bah diberi kelambu 2/159). Ketika (puasa) Ramadhan difardhukan (dalam satu riwayat: turun ayat yang mewajibkan puasa Ramadhan 5/155), maka puasa Ramadhan itulah yang wajib, dan beliau meninggalkan hari Asyura. Barangsiapa yang mau, maka berpuasalah; dan barangsiapa yang mau, maka ia boleh meninggalkannya." (Dan dalam satu riwayat: "Sehingga diwajibkan puasa Ramadhan, dan Rasulullah bersabda, 'Barangsiapa yang mau, maka berpuasalah; dan barangsiapa yang mau, maka ia boleh berbuka.'" 2/226).

Humaid bin Abdurrahman mengatakan bahwa ia mendengar Mu'awiyah bin Abu Sufyan r.a pada hari Asyura, pada tahun haji, berkata di atas mimbar, "Wahai penduduk Madinah, manakah ulama kalian? Aku mendengar Rasulullah bersabda, 'Ini adalah hari Asyura dan tidak diwajibkan mengerjakan puasa atasmu. Tetapi, aku berpuasa. Barangsiapa yang menghendaki puasa, bolehlah berpuasa. Barangsiapa yang tidak menghendaki berpuasa, maka boleh tidak berpuasa.'"

Ibnu Abbas r.a. berkata, "Nabi tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Maka, beliau bertanya, 'Apakah ini?' Mereka menjawab, 'Hari yang baik (dalam satu riwayat hari besar 4/126). Ini adalah hari yang Allah pada hari itu menyelamatkan bani Israel dari musuh mereka. (Dalam satu riwayat: Hari yang pada saat itu Allah menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israel atas musuh mereka). Maka, Musa berpuasa pada hari itu sebagai pernyataan syukur kepada Allah, (dan kita berpuasa pada hari itu untuk menghormatinya' 4/269). Beliau bersabda, 'Aku lebih berhak (dalam satu riwayat: 'Kita lebih lebih layak) terhadap Musa daripada kamu sekalian (kaum Yahudi).' Lalu, beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan berpuasa pada hari itu." (Dalam riwayat lain: "Kalian lebih berhak terhadap Musa daripada mereka (kaum Yahudi), maka berpuasalah kalian." 5/212)

Abu Musa r.a. berkata, "Hari Asyura itu dianggap oleh kaum Yahudi sebagai hari raya." (Dalam satu riwayat: Abu Musa berkata, "Nabi memasuki Madinah, tahu-tahu orang-orang Yahudi mengagungkan hari Asyura dan berpuasa padanya. Lalu, Nabi bersabda, 'Kita lebih berhak untuk berpuasa pada hari itu. 4/269). Maka, berpuasalah kamu semua pada hari Asyura itu.'"

Ibnu Abbas r.a. berkata, "Saya tidak pernah melihat Nabi mengerjakan puasa pada suatu hari yang oleh beliau lebih diutamakan atas hari-hari yang lain, kecuali hari ini, yaitu hari Asyura, dan bulan ini, yakni bulan Ramadhan."

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Adalah kaum Quraisy pada zaman Jahiliyah selalu berpuasa pada hari Asyura' dan Rasulullah saw. juga berpuasa pada hari itu. Ketika beliau hijrah ke Madinah, beliau tetap berpuasa pada hari itu dan menyuruh para sahabat untuk berpuasa pada hari itu. Namun ketika diwajibkan puasa bulan Ramadan, beliau bersabda: Barang siapa yang ingin berpuasa, maka berpuasalah dan barang siapa yang tidak ingin berpuasa, maka ia boleh meninggalkannya. (Shahih Muslim No.1897)

Hadis riwayat Abdullah Ibnu Umar ra.:
Bahwa orang-orang Jahiliyah dahulu selalu berpuasa pada hari Asyura'. Dan bahwa Rasulullah saw. dan kaum muslimin juga berpuasa pada hari itu sebelum diwajibkan puasa bulan Ramadan. Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya hari Asyura' adalah hari-hari Allah, maka barang siapa yang ingin berpuasa, maka berpuasalah pada hari itu dan barang siapa yang tidak ingin, maka ia boleh meninggalkannya. (Shahih Muslim No.1901)

Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra.:
Dari Abdurrahman bin Yazid, ia berkata: Asy`ats bin Qais datang menjumpai Abdullah, ketika ia sedang makan siang, ia (Abdullah) berkata: Wahai Abu Muhammad, mari kita makan siang. Ia (Asy`ats) berkata: Bukankah hari ini adalah hari Asyura'? Ia (Abdullah) bertanya: Apakah engkau mengetahui apa hari Asyura' itu? Ia (Asy`ats) menjawab: Hari apa itu. Kemudian ia (Abdullah) menjelaskan: Hari itu adalah hari yang dahulu Rasulullah saw. selalu berpuasa sebelum diwajibkan puasa bulan Ramadan dan ketika puasa bulan Ramadan diwajibkan, puasa hari Asyura' itu ditinggalkan. (Shahih Muslim No.1905)

Hadis riwayat Muawiyah bin Abu Sufyan ra.:
Dari Humaid bin Abdurrahman bahwa ia mendengar Muawiyah bin Abu Sufyan berpidato di Madinah pada hari Asyura' ketika ia berkunjung ke kota tersebut. Ia bertanya: Di manakah ulama-ulama kalian, wahai penduduk Madinah? Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda tentang hari ini. Hari ini adalah hari Asyura' dan Allah tidak mewajibkan kalian melaksanakan puasa pada hari ini, tetapi aku berpuasa. Maka barang siapa di antara kalian ingin berpuasa, maka berpuasalah dan barang siapa di antara kalian ingin berbuka, maka silakan tidak puasa. (Shahih Muslim No.1909)

Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata:
Ketika Rasulullah saw. tiba di Madinah, beliau menjumpai orang-orang Yahudi melaksanakan puasa hari Asyura'. Ketika ditanyakan tentang hal itu, mereka menjawab: Hari ini adalah hari kemenangan yang telah diberikan Allah kepada Nabi Musa as. dan Bani Israel atas Firaun. Karena itulah pada hari ini kami berpuasa sebagai penghormatan padanya. Mendengar jawaban itu Rasulullah saw. bersabda: Kami lebih berhak atas Musa dari kalian, maka beliau menyuruh para sahabat untuk berpuasa. (Shahih Muslim No.1910)

Hadis riwayat Abu Musa ra., ia berkata:
Has.ri Asyura' adalah hari yang dimuliakan orang-orang Yahudi dan dijadikannya sebagai hari raya. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: Berpuasalah kalian pada hari Asyura' tersebut. (Shahih Muslim No.1912)

Hadis riwayat Ibnu Abbas ra.:
Ibnu Abbas ra. pernah ditanya tentang puasa pada hari Asyura', dia menjawab: Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw. berpuasa sehari untuk mencari keutamaan hari itu atas hari-hari yang lain selain pada hari ini. Begitu pula (saya tidak pernah melihat beliau) berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan ini, bulan Ramadan. (Shahih Muslim No.1914)

Barang siapa makan pada siang hari Asyura', maka hendaknya ia berpuasa  pada sisa harinya
Hadis riwayat Salamah bin Akwa` ra., ia berkata:
Rasulullah saw. pernah mengutus seorang laki-laki dari Aslam pada hari Asyura' untuk mengumumkan kepada manusia bahwa Barang siapa yang belum berpuasa, maka hendaknya ia berpuasa dan barang siapa yang terlanjur makan, maka hendaknya ia menyempurnakan dengan berpuasa sampai menjelang malam. (Shahih Muslim No.1918)

Hadis riwayat Rubayyi` binti Muawwidz bin Afra' ra., ia berkata:
Rasulullah saw. mengirim surat ke kampung-kampung Ansar di sekitar Madinah yang isinya: Barang siapa yang pada pagi hari ini dalam keadaan berpuasa, maka hendaknya ia menyempurnakan puasanya itu. Barang siapa yang pada pagi hari ini tidak berpuasa, maka hendaknya ia berpuasa pada sisa harinya. Setelah itu kami berpuasa, bahkan kami menyuruh anak-anak kami yang masih kecil untuk ikut berpuasa bersama kami atas izin Allah. Sehingga ketika kami berangkat ke mesjid, kami membuatkan untuk mereka (anak-anak kami) mainan dari bulu kambing kibasy. Jika di antara mereka ada yang menangis minta makan, maka kami (hiburnya) dengan memberikan mainan tersebut. Demikian yang kami lakukan sampai kami semua boleh berbuka. (Shahih Muslim No.1919)

Makna Puasa

A. Arti Puasa ;
Secara bahasa berarti menahan dari sesuatu
Secara syar’i berarti menahan dari hal-hal yang membatalkan semenjak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.

B. Fadhilah Puasa ;
1. Pembebas syahwat
2. Penghapus dosa
3. Pemberi syafa’at
4. Pembebas dari api neraka
5. Sarana meraih kebahagiaan dunia akhirat
6. Sarana masuk surga
7. Ibadah yang tiada bandingnya

C. Macam-macam Puasa ;
1. Puasa Wajib     3.  Puasa Haram
2. Puasa Sunnah   4.  Puasa makruh

  (1). Puasa Wajib :
          1.  Wajib  karena waktu, yaitu Puasa Romadhon
          2.  Wajib karena sebab tertentu, yaitu Puasa Kaffaroh
          3.  Wajib karena seseorang mewajibkannya atas dirinya, yaitu Puasa Nadzar
  (2). Puasa Sunnah :
          1.  Puasa Daud
          2.  Puasa Ayyamulbidh ( 13, 14 & 15 tiap bulan Hijriyah )
          3.  Puasa Senin dan Kamis
          4.  Puasa 6 hari di bulan Syawwal
          5.  Puasa hari Arofah bagi yang tidak berhaji
          6.  Puasa Tasu’a  dan  ‘ Asyura ( tanggal 9 & 10 Muharram )
          7.  Puasa bulan Sya’ban
  (3). Puasa Haram :
      1.  Puasanya sunnah seorang istri tanpa izin suaminya pada saat ada bersamanya       
          2.  Puasa hari syak, yaitu tanggal 30 Sya’ban bila diragukan sudah masuk ramadhan
          3.  Puasa hari ‘Ied ( ‘Iedul Fitri & ‘Iedul Adha )
          4.  Puasanya seorang wanita yang sedang haidh atau nifas
          5.  Puasa Bid’ah ( mis. 12 Robi’ul Awwal, Nishfu Sya’ban, 27 Rojab )
  (4). Puasa Makruh :
          1.  Mengkhususkan puasa hari jum’at dan sabtu
          2.  Puasa Wishol
          3.  Puasa Dahr

D. Puasa Ramadhan ;
(1). Parameter penentuan awal Ramadhan :
          1.  Dengan melihat Hilal
          2.  Dengan menyempurnakan Sya’ban menjadi 30 hari
          3.  Dengan Hisab
(2). Periodisasi Penetapan Hukum Puasa :
       Puasa Romadhon disyari’atkan dalam 2 peride  :
       Periode pertama, adalah marhalahtut takhyir yaitu fase dimana seorang mukallaf diberi hak pilih antara
       berpuasa atau tidak berpuasa tapi membayar fidyah  (QS. 2   : 184 )
       Periode kedua, Marhalatul Ilzam, yaitu fase diwajibkannya berpuasa  Romadhon  kepada  setiap
       mukallaf  dan  dihapuskannya hak memilih yang terdapat pada ayat diatas ( QS. 2 : 185 )
(3). Syarat-syarat Puasa :
       a. Syarat-syarat wajib :
          1.  Islam            3.  Berakal           5.  Mukim
          2.  Baligh           4.  Mampu           6.  Tidak haidh  dan tidak nifas
       b. Syarat-syarat sah :
          1.  Niat
          2.  Dilaksanakan diwaktunya
(4). Yang disunnahkan dibulan Romadhon :
          1.  Sahur dan men-ta’khirkannya
          2.  Menyegerakan berbuka
          3.  Berdo’a waktu berbuka
          4.  Menghidupkan malam dengan ‘ibadah
          5.  Memberikan buka kepada yang berpuasa
          6.  Memperbanyak shodaqoh
          7.  Meningkatkan ‘ibadah di 10 akhir Romadhon
(5). Beberapa Udzur Syar’i dalam Puasa :
          1.  yang mewajibkan berbuka dan meng-qohdo’, yaitu haid dan nifas
          2.  yang membolehkan berbuka dan mewajibkan meng-qodho’, yaitu sakit dan safar
          3.  yang  membolehkan berbuka & wajib fidyah, yaitu krn usia / sakit yan tidak ada harapan sembuh
          4.  Udzur yang diperselisihkan Ulama, yaitu hamil dan menyusui
          5.  Udzur yang membolehkan berbuka dan mewajibkan fidyah atau qodho’  
(6). Yang membatalkan Puasa :
          1.  Makan dan Minum dengan sengaja
          2.  Haidh dan Nifas
          3.  Gila
          4.  Murtad
          5.  Jimak
(7). Tingkatan golongan yang tidak berpuasa dan konskwensinya :
          a. Yang tidak wajib puasa dan tidak sah puasa ;
             1.  Orang kafir
             2.  Orang gila
          b. Yang wajib berbuka dan wajib meng-qodho’ ;
              Wanita nifas dan haidh
          c. Yang boleh berbuka dan wajib qodho’ ;
             1.  Orang sakit
             2.  Musafir
             3.  Wanita hamil dan menyusui ( Hanafiyah ) dan ( Jumhur bila hawatir atas dirinya )
             4.  Pekerja berat ( bila berkeyakinan ada alternatif pekerjaan lain )
          d. Yang boleh berbuka dan wajib fidyah ;
             1.  Yang lanjut usia
             2.  Yang sakit dan tidak ada harapan sembuh
             3.  Wanita hamil dan menyusui ( Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar )
          e. Yang batal puasa dan wajib qodho’ ;
             Yang makan dan minum dengan sengaja
          f. Yang tidak berpuasa dan wajib qodho’ ;
             1. Wanita hamil dan menyusui yang hawatir atas dirinya dan janinnya (Jumhur selain Hanafiyah )
             2. Yang menta’khirkan qhodho’ puasa hingga datangnya ramadhan berikutnya          
          g. Yang batal puasa dan wajib qodho’ dan kaffaroh ; yang berhubungan suami istri disiang hari
              pada bulan Ramadhan