Landasan Hukum :
- Al Qur’an : 4 : 103
- Al Hadits :
“
Barang siapa yang senang berjumpa Allah dalam keadaan muslim, maka
hendaknya mendirikan sholat-sholat fardhu dengan berjama’ah . . . .
.jika kalian sholat dirumah sebagaimana sholatnya seorang ini
dirumahnya, maka kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian, dan bila
kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian , maka kalian telah sesat .... “ (
HR. Muslim )
- Al Ijma’ :
Para Ulama’ bersepakat, bahwa sholat berjama’ah disyari’atkan setelah hijroh
Keutamaannya :
Banyak hadits yang menjelaskan fadhilah sholat jama’ah dan pahala besar
yang Allah sediakan bagi yang sholat berjama’ah, semenjak mereka
berangkat menuju ke masjid hingga mereka selesai sholat, bahkan sampai
mereka kembali ke rumah, diantaranya :
“ Barang siapa
berwudhu dan menyempurnakannya, kemudian berjalan untuk mendirikan
sholat fardhu dan melaksanakannya dimasjid ( secara berjama’ah ), maka
Allah akan mengampuni dosa-dosanya “ ( HR. Muslim )
Hukum berjama’ah bagi laki-laki :
1. Hanafiyah & Malikiyah : Sunnah Muakkadah dan berdosa bagi yang meninggalkan tanpa udzur
2. Syafi’iyyah :Fardhu Kifayah dan berdosa bagi yang meninggalkan tanpa udzur
3. Hanabilah & Dhohiriyah : Fardhu ‘Ain
Hukum berjama’ah di Masjid bagi Wanita :
Pada
dasarnya wanita lebih diutamakan untuk sholat di rumah, namun
diperkenankan baginya berjama’ah di masjid, dengan syarat aman dari
fitnah dan tidak memakai wangi-wangian, sesuai dengan sabda Rosulllah
saw :
“ Jangan melarang para wanita untuk datang ke Masjid
Allah, dan hendaknya mereka keluar tanpa wangi-wangian “(HR.Ahmad
& Abu Daud) dan dalam riwayat Ibnu Umar “ Dan rumah mereka lebih
baik bagi mereka “
Yang dianjurkan bagi Imam :
1. Meluruskan dan merapatkan shof
2. Memperhatikan kondisi makmum
3. Memperpanjang ayat yang dibaca pada roka’at I
4. Menghadap kearah makmum dan bergeser kekiri atau kekanan sesudah salam
Beberapa adab dalam sholat berjama’ah :
1. Disunnahkan berjalan ke Masjid dengan khusu’ dan tenang
2. Diwajibkan bagi Makmum untuk mengikuti gerakan imamnya dan haram untuk mendahuluinya
3. Bagi Masbuq di masjid disunnahkan untuk mengikuti gerakan imam sesuai dengan posisinya
4. Tidak diperkenankan sholat setelah Iqomah kecuali sholat fardhu yang karenanya dikumandangkan
5. Dimakruhkan untuk mengulang jama’ah di Masjid Mahillah (yang mempunyai Imam dan jama’ah tetap)
6. Disunnahkan bagi yang sudah sholat sendiri atau sholat diperjalanan untuk bergabung dengan jama’ah
yang dijumpainya
Udzur Syar’i untuk tidak berjama’ah :
1. Sakit berat
2. Takut bahaya
3. Hujan
4. Sesudah makan yang melahirkan bahu tidak sedap
Imam Sholat Jama’ah :
Syarat sahnya Imam :
1. Islam
2. Berakal
3. Baligh
4. Laki-laki, jika diantara makmumnya laki-laki
5. Mampu melaksanakan rukun sholat
6. Mampu membaca dengan benar
Catatan : apabila semua syarat tersebut terpenuhi, maka parameter penentuan Imam berdasarkan urutan berikut :
1. Yang paling baik bacaan Al qur’annya
2. Yang paling menguasai sunnah Rasul saw
3. Yang paling dahulu hijroh
4. Yang paling tua
Yang dimakruhkan untuk menjadi Imam :
1. Fasik
2. Ahli bid’ah
3. Yang tidak fasih
4. Yang tidak disukai makmum
Tampilkan postingan dengan label sholat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sholat. Tampilkan semua postingan
QOSHR DAN JAMA’
Meng-Qoshr Sholat :
Disyari’atkan bagi Musafir untuk meng-qoshr sholat ( memendekkan sholat yang terdiri dari 4 roka’at menjadi 2 roka’at )
Landasan Hukum :
- Al Qur’an : 4 : 101
( Dan apabila kamu bepergian dimuka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqoshr sholatmu, jika kamu takut diserang orang-orang kafir )
- Al Hadits :
( Ya’la bin Umaiyyah bertanya kepada Umar bin Khottob : Kenapakah kita masih mengqoshr sholat padahal kita sudah aman ? Umar menjawab : aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw dengan pertanyaan yang sama, kemudian beliau menjawab ; “ itu adalah shodaqoh Allah, maka terimalah shodaqohNya “ ( HR. Muslim )
- Al Ijma’ :
Telah sepakat para Ulama’ tentang syari’at men-qoshr sholat dalam safar
Hukum Meng-qoshr Sholat :
1. Hanafiyah : wajib
2. Malikiyah : Sunnah muakkadah
3. Syafi’iyyah & Hanabilah : Ruhshoh
Jarah Safar :
1. Hanafiyah : Kurang lebih 96 km
2. Jumhur ‘Ulama’ : Kurang lebih 89 km
3. Ibnu Qudamah : Tidak ada batas jarak
Waktu Meng-qoshr :
Setelah Musafir keluar dari kampungnya
Kapankah seorang Musafir berstatus menjadi Mukim ?
Bermakmumnya seorang Musafir kepada seorang Mukim atau sebaliknya :
- Seorang Musafir diperkenankan untuk bermakmum kepada seorang Mukim dengan kewajiban
menyempurnakan sholatnya sebagaimana imamnya
- Seorang Mukim juga diperkenankan untuk bermakmum kepada seorang Musafir dengan kewajiban
menyempurnakan kekurangannya
Menjama’ Sholat :
Menurut Jumhur ‘Ulama’ diperkenankan menjama’/menggabungkan antara sholat Dhuhur dan ‘Ashr dan antara sholat Maghrib dan ‘Isyak, baik dengan jama’ taqdim (jama’ diwaktu sholat yang pertama) atau jama’ ta’khir (jama’ diwaktu sholat yang kedua) dalam 3 keadaan :
1. Safar
2. Hujan
3. Jama’ di Muzdalifah dan ‘Arofah
• Syarat Jama’ Taqdim :
1. Niat
2. Tertib
3. Berkesinambungan
4. Adanya alasan yg memperkenankan jama’ hingga berlangsungnya takbirotul Ihrom untuk sholat yg kedua
5. Terlaksananya sholat yang kedua pada waktu sholat yang pertama
• Syarat Jama’ Ta’khir :
1. Niat
2. Adanya alasan yang memperkenankan jama’ hingga selesainya sholat yang kedua
Disyari’atkan bagi Musafir untuk meng-qoshr sholat ( memendekkan sholat yang terdiri dari 4 roka’at menjadi 2 roka’at )
Landasan Hukum :
- Al Qur’an : 4 : 101
( Dan apabila kamu bepergian dimuka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqoshr sholatmu, jika kamu takut diserang orang-orang kafir )
- Al Hadits :
( Ya’la bin Umaiyyah bertanya kepada Umar bin Khottob : Kenapakah kita masih mengqoshr sholat padahal kita sudah aman ? Umar menjawab : aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw dengan pertanyaan yang sama, kemudian beliau menjawab ; “ itu adalah shodaqoh Allah, maka terimalah shodaqohNya “ ( HR. Muslim )
- Al Ijma’ :
Telah sepakat para Ulama’ tentang syari’at men-qoshr sholat dalam safar
Hukum Meng-qoshr Sholat :
1. Hanafiyah : wajib
2. Malikiyah : Sunnah muakkadah
3. Syafi’iyyah & Hanabilah : Ruhshoh
Jarah Safar :
1. Hanafiyah : Kurang lebih 96 km
2. Jumhur ‘Ulama’ : Kurang lebih 89 km
3. Ibnu Qudamah : Tidak ada batas jarak
Waktu Meng-qoshr :
Setelah Musafir keluar dari kampungnya
Kapankah seorang Musafir berstatus menjadi Mukim ?
- Hanafiyah : Apabila berniat untuk tinggal ditempat safarnya minimal 15 hari, kecuali apabila menunggusuatu urusan
- Jumhur : Apabila berniat untuk tinggal ditempat safarnya minimal 4 hari, kecuali apabila menunggu suatu urusan
- Ibnu Mundzir : Seorang Musafir diperkenankan meng-qoshr sholat (tetap berstatus sebagai Musafir) selama tidak ada niat untuk mukim selamanya
Bermakmumnya seorang Musafir kepada seorang Mukim atau sebaliknya :
- Seorang Musafir diperkenankan untuk bermakmum kepada seorang Mukim dengan kewajiban
menyempurnakan sholatnya sebagaimana imamnya
- Seorang Mukim juga diperkenankan untuk bermakmum kepada seorang Musafir dengan kewajiban
menyempurnakan kekurangannya
Menjama’ Sholat :
Menurut Jumhur ‘Ulama’ diperkenankan menjama’/menggabungkan antara sholat Dhuhur dan ‘Ashr dan antara sholat Maghrib dan ‘Isyak, baik dengan jama’ taqdim (jama’ diwaktu sholat yang pertama) atau jama’ ta’khir (jama’ diwaktu sholat yang kedua) dalam 3 keadaan :
1. Safar
2. Hujan
3. Jama’ di Muzdalifah dan ‘Arofah
• Syarat Jama’ Taqdim :
1. Niat
2. Tertib
3. Berkesinambungan
4. Adanya alasan yg memperkenankan jama’ hingga berlangsungnya takbirotul Ihrom untuk sholat yg kedua
5. Terlaksananya sholat yang kedua pada waktu sholat yang pertama
• Syarat Jama’ Ta’khir :
1. Niat
2. Adanya alasan yang memperkenankan jama’ hingga selesainya sholat yang kedua
Sholat Sunnah
Fadhilah Sholat Sunnah :
1. Sarana meraih cinta Allah ;
Allah swt berfirman dalam hadits qudsi :
“ . . . dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintanya, dan bila Aku mencintainya, maka Aku akan menolong pendengarannya yang dengannya ia mendengar, dan penglihatannya yang dengannya ia melihat dan tangannya yang dengannya ia bertindak dan kakinya yang dengannya ia berjalan, dan apabila ia memohon kepad-Ku pasti akan Aku beri dan apabila memohon perlindungan pasti Aku lindungi “ ( HR. Bukhori )
2. Sarana penyempurna ibadah yang tidak sempurna ;
Allah swt berfirman dalam hadits qudsi :
“.. sempurnakanlah ibadah fardhu hamba-Ku dengan ibadah sunnahnya ..“ (HR.Abu Daud)
Macam-Macam Sholat Sunnah ;
Muthlaqoh
Muakkadah
Sholat Sunnah Rowatib
Muqoyyadah Ghoiru Muakkadah
Tertentu
Yang disunnahkan
Berjama’ah
Non Rowatib
Yang tidak
Disunnahkan
Berjama’ah
Keterangan :
1. Sholat Sunnah Muthlaqoh, ialah sholat sunnah yang bisa dikerjakan oleh seorang muslim sewaktu-waktu, selain di waktu yang dilarang ( sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Dzar ra, seperti disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dan Imam Darimi )
2. Sholat Sunnah Muqoyyadah, ialah sholat sunnah yang telah ditentukan baik waktu atau caranya.
2. a. Sunnah Rowatib, ialah sholat sunnah sebelum atau sesudah sholat fardhu :
* Muakkadah ( ditekankan untuk dilakukan )
- 2 roka’at sebelum shubuh
- 2 roka’at sebelum dhuhur
- 2 roka’at sesudah dhuhur
- 2 roka’at sesudah maghrib
- 2 roka’at sesudah ‘isyak
Dari Adullah bin Umar ra berkata : “ Aku hafal dari Rosululah saw sepuluh roka’at ; 2 roka’at sebelum dhuhur dan 2 roka’at sesudahnya, 2 roka’at sesudah maghrib dirumahnya, 2 roka’at sesudah ‘isyak di rumahnya dan 2 roka’at sebelum shubuh “ ( H.R. Bukhori )
* Ghoiru Muakkadah ( tidak ditekankan )
- 2 roka’at sebelum dhuhur (selain yang muakkadah)
- 2 roka’at sesudah dhuhur (selain yang muakkadah)
Bersabda Rosulullah saw :
“ Barang siapa yang sholat 4 roka’at sebelum dhuhur dan 4 roka’at sesudahnya, maka Allah akan mengharamkan dagingnya atas api neraka “ ( HR. Ahmad, Abu Daud, Nasai dan Tirmidzi )
- 2 atau 4 roka’at sebelum ashar
Bersabda Rosulullah saw :
“ Allah akan memberikan rahmat kepada seorang yang sholat 4 roka’at sebelum ‘ashr “ ( HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Ibnu Huzaimah )
- 2 roka’at sebelum maghrib
Bersabda Rosulullah saw :
“ Sholatlah kalian sebelum maghrib, sholatlah sebelum maghrib, kemudian beliau melanjutkan : bagi yang menghendaki “ ( HR. Bukhori )
- 2 roka’at sebelum ‘isyak
Bersabda Rosulullah saw :
“ Diantara dua adzan ( adzan dan iqomah ) disyari’atkan sholat, diantara dua adzan disyari’atkan sholat, kemudian beliau melanjutkan : bagi yang menghendaki “ ( HR. Bukhori, Muslim dan yang lainnya )
Catatan : > Sholat rowatib tersmasuk sholat sunnah yang tidak disunnahkan berjama’ah dalam pelaksaannya
> Bagi yang terhalang secara syar’i untuk mengerjakan sholat qobliyah mu’akkadah,
diperkenankan untuk meng-qodho’nya sesudah sholat wajib :
“ Barang siapa yang belum melaksanakan sholat qobliyah shubuh hingga terbit matahari,
hendaklah melaksanakannya “ ( HR. Baihaqi )
“ Adalah Rosulullah saw apabila ketinggalan untuk melaksanakan 4 roka’at qobliyah dhuhur
maka beliau laksanakan 2 roka’at setelah dhuhur “ ( HR Ibnu Majah )
2.b. Sunnah Non Rowatib:
a. Yang disunnahkan berjama’ah :
1. Sholat ‘Ied ( Fithri dan Adha )
Waktunya : Setelah meningginya matahari hingga istiwak
Jumlah roka’atnya : 2 roka’at dgn 7 takbir pd roka’at pertama dan 5 takbir pd roka’at kedua
Yang disunnahkan :
i. memperbanyak amal sholih di 10 awwal bulan Dzul Qo’dah
ii. keluarnya semua ummat Islam untuk menyaksikan/melaksanakan sholat ‘ied termasuk
wanita yg berhalangan, dgn catatan bagi yg berhalangan agar tidak masuk ke musholla
iii. memperbanyak baca Takbir
> untuk ‘Iedul Fithri : dimulai ketika berangkat kemusholla hingga datangnya Imam
> untuk ‘iedul Adha : semenjak hari ‘Arofah hingga ‘Ashar dari akhir hari Tasyriq
terutama setelah sholat-sholat fardhu
iv. mandi dan memakai minyak wangi ( bagi laki-laki ) sebelum berangkat untuk sholat
v. berangkat ke musholla dengan jalan kaki
vi. makan sebelum sebelum berangkat untuk solat ‘iedul fithri
vii. kembali dari musholla dengan tidak melalui jalan yang dilaluinya ketika berangkat
2. Sholat kusuf ( gerhana matahari dan bulan )
- Waktunya : saat terjadi gerhana
- Jumlah roka’at : 2, tiap roka’at 2 kali ruku’ dan 2 kali sujud dan disunnahkan bagi Imam
untuk memperpanjang bacaan ayat dan meperpanjang ruku’ dan sujud
3. Sholat Istisqok ( memohon turunnya hujan )
Waktunya : diselain waktu yang dilarang sholat
Jumlah roka’atnya : 2 roka’at
4. Sholat Tarowih ( Qiyam romadhon )
Waktunya : sesudah sholat isyak dibulan Romadhon
Jumalah roka’atnya : disunnahkan untuk membiasakan 11 roka’at dengan witirnya
Catatan : untuk sholat ‘Ied, Kusuf dan Istisqok disunnahkan khutbah sesudah sholat
b. Yang tidak disunnahkan berjama’ah :
1. Sholat Dhuha, berkata Abu Sa’id ra :
“ Adalah Rosulullah saw sering melaksanakan sholat dhuha, sehingga kami mengatakan
tidak pernah meninggalkannya “ ( HR. Tirmidzi )
Waktunya : setelah meningginya matahari hinga istiwak
Jumlah roka’atnya : minimal 2 roka’at dan maksimal 8 roka’at
2. Sholat Tahiyyatul Masjid, bersabda Rosulullah saw :
“ Apabila seseorang diantara kalian masuk masjid, maka janganlah duduk hingga sholat
dua roka’at “ ( HR. Jama’ah )
Waktunya : setiap kali masuk masjid
Jumlah roka’atnya : 2 roka’at dan terwakili dengan sholat wajib atau sholat sunnah
3. Sholat Tahajjud/sholat lail, bersabda Rosulullah saw :
“ Sebaik-baik sholat setelah sholat fardhu adalah sholat malam “ ( HR. Muslim )
Waktunya : tengah malam atau sepertiga akhir malam
Jumlah roka’atnya : disunnahkan 11 atau 13 roka’at dengan witir
4. Sholat Istikhoroh, bersabda Rosulullah saw :
“ Adalah Rosulullah saw mengajarkan kepada kita Istikhoroh dalam segala urusan “
( HR. Jama’ah kecuali Muslim )
Waktunya : diselain waktu yang dilarang sholat
Jumlah roka’atnya : 2 roka’at
5. Sholat Wudhu, bersabda Rosulullah saw :
“ Barang siapa yang berwudhu seperti wudhuku kemudian sholat 2 roka’at dgn khusyu’,
maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu (HR. Bukhori, Muslim dan yang lainnya )
Waktunya : sesudah wudhu
Jumlah : 2 roka’at
6. Sholat safar, bersabda Rosulullah saw :
“Rosulullah saw ketika datang dari safar mendatangi masjid terlebih dahulu lalu
melaksanakan sholat dua roka’at “ (HR.Bukhori & Muslim)
Waktunya : setelah kembali dari safar di masjid terdekat
Jumlah roka’atnya : 2 roka’at
7. Sholat Hajat, bersabda Rosulullah saw :
“ Barang siapa yg mempunyai hajat kpd Allah / kpd manusia, maka hendaklah berwudhu
dan menyempurnakannya kemudian sholat 2 roka’at..“ ( HR. Tirmidzi & Ibnu Majah )
Waktunya : diselain waktu yang dilarang sholat
Jumlah roka’at : 2 roka’at
8. Sholat Taubat, bersabda Rosulullah saw :
“ Tiadalah seorang berbuat dosa kemudian berwudhu dan sholat kemudian istighfar
kepada Allah, kecuali Allah akan menganpuni dosanya.. “ ( HR. Abu Daud, Nasai, Ibnu
Majah, Tirmidzi dan Baihaqi )
Waktunya : diselain waktu yang dilarang sholat
Jumlah roka’atnya : 2 roka’at
1. Sarana meraih cinta Allah ;
Allah swt berfirman dalam hadits qudsi :
“ . . . dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintanya, dan bila Aku mencintainya, maka Aku akan menolong pendengarannya yang dengannya ia mendengar, dan penglihatannya yang dengannya ia melihat dan tangannya yang dengannya ia bertindak dan kakinya yang dengannya ia berjalan, dan apabila ia memohon kepad-Ku pasti akan Aku beri dan apabila memohon perlindungan pasti Aku lindungi “ ( HR. Bukhori )
2. Sarana penyempurna ibadah yang tidak sempurna ;
Allah swt berfirman dalam hadits qudsi :
“.. sempurnakanlah ibadah fardhu hamba-Ku dengan ibadah sunnahnya ..“ (HR.Abu Daud)
Macam-Macam Sholat Sunnah ;
Muthlaqoh
Muakkadah
Sholat Sunnah Rowatib
Muqoyyadah Ghoiru Muakkadah
Tertentu
Yang disunnahkan
Berjama’ah
Non Rowatib
Yang tidak
Disunnahkan
Berjama’ah
Keterangan :
1. Sholat Sunnah Muthlaqoh, ialah sholat sunnah yang bisa dikerjakan oleh seorang muslim sewaktu-waktu, selain di waktu yang dilarang ( sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Dzar ra, seperti disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dan Imam Darimi )
2. Sholat Sunnah Muqoyyadah, ialah sholat sunnah yang telah ditentukan baik waktu atau caranya.
2. a. Sunnah Rowatib, ialah sholat sunnah sebelum atau sesudah sholat fardhu :
* Muakkadah ( ditekankan untuk dilakukan )
- 2 roka’at sebelum shubuh
- 2 roka’at sebelum dhuhur
- 2 roka’at sesudah dhuhur
- 2 roka’at sesudah maghrib
- 2 roka’at sesudah ‘isyak
Dari Adullah bin Umar ra berkata : “ Aku hafal dari Rosululah saw sepuluh roka’at ; 2 roka’at sebelum dhuhur dan 2 roka’at sesudahnya, 2 roka’at sesudah maghrib dirumahnya, 2 roka’at sesudah ‘isyak di rumahnya dan 2 roka’at sebelum shubuh “ ( H.R. Bukhori )
* Ghoiru Muakkadah ( tidak ditekankan )
- 2 roka’at sebelum dhuhur (selain yang muakkadah)
- 2 roka’at sesudah dhuhur (selain yang muakkadah)
Bersabda Rosulullah saw :
“ Barang siapa yang sholat 4 roka’at sebelum dhuhur dan 4 roka’at sesudahnya, maka Allah akan mengharamkan dagingnya atas api neraka “ ( HR. Ahmad, Abu Daud, Nasai dan Tirmidzi )
- 2 atau 4 roka’at sebelum ashar
Bersabda Rosulullah saw :
“ Allah akan memberikan rahmat kepada seorang yang sholat 4 roka’at sebelum ‘ashr “ ( HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Ibnu Huzaimah )
- 2 roka’at sebelum maghrib
Bersabda Rosulullah saw :
“ Sholatlah kalian sebelum maghrib, sholatlah sebelum maghrib, kemudian beliau melanjutkan : bagi yang menghendaki “ ( HR. Bukhori )
- 2 roka’at sebelum ‘isyak
Bersabda Rosulullah saw :
“ Diantara dua adzan ( adzan dan iqomah ) disyari’atkan sholat, diantara dua adzan disyari’atkan sholat, kemudian beliau melanjutkan : bagi yang menghendaki “ ( HR. Bukhori, Muslim dan yang lainnya )
Catatan : > Sholat rowatib tersmasuk sholat sunnah yang tidak disunnahkan berjama’ah dalam pelaksaannya
> Bagi yang terhalang secara syar’i untuk mengerjakan sholat qobliyah mu’akkadah,
diperkenankan untuk meng-qodho’nya sesudah sholat wajib :
“ Barang siapa yang belum melaksanakan sholat qobliyah shubuh hingga terbit matahari,
hendaklah melaksanakannya “ ( HR. Baihaqi )
“ Adalah Rosulullah saw apabila ketinggalan untuk melaksanakan 4 roka’at qobliyah dhuhur
maka beliau laksanakan 2 roka’at setelah dhuhur “ ( HR Ibnu Majah )
2.b. Sunnah Non Rowatib:
a. Yang disunnahkan berjama’ah :
1. Sholat ‘Ied ( Fithri dan Adha )
Waktunya : Setelah meningginya matahari hingga istiwak
Jumlah roka’atnya : 2 roka’at dgn 7 takbir pd roka’at pertama dan 5 takbir pd roka’at kedua
Yang disunnahkan :
i. memperbanyak amal sholih di 10 awwal bulan Dzul Qo’dah
ii. keluarnya semua ummat Islam untuk menyaksikan/melaksanakan sholat ‘ied termasuk
wanita yg berhalangan, dgn catatan bagi yg berhalangan agar tidak masuk ke musholla
iii. memperbanyak baca Takbir
> untuk ‘Iedul Fithri : dimulai ketika berangkat kemusholla hingga datangnya Imam
> untuk ‘iedul Adha : semenjak hari ‘Arofah hingga ‘Ashar dari akhir hari Tasyriq
terutama setelah sholat-sholat fardhu
iv. mandi dan memakai minyak wangi ( bagi laki-laki ) sebelum berangkat untuk sholat
v. berangkat ke musholla dengan jalan kaki
vi. makan sebelum sebelum berangkat untuk solat ‘iedul fithri
vii. kembali dari musholla dengan tidak melalui jalan yang dilaluinya ketika berangkat
2. Sholat kusuf ( gerhana matahari dan bulan )
- Waktunya : saat terjadi gerhana
- Jumlah roka’at : 2, tiap roka’at 2 kali ruku’ dan 2 kali sujud dan disunnahkan bagi Imam
untuk memperpanjang bacaan ayat dan meperpanjang ruku’ dan sujud
3. Sholat Istisqok ( memohon turunnya hujan )
Waktunya : diselain waktu yang dilarang sholat
Jumlah roka’atnya : 2 roka’at
4. Sholat Tarowih ( Qiyam romadhon )
Waktunya : sesudah sholat isyak dibulan Romadhon
Jumalah roka’atnya : disunnahkan untuk membiasakan 11 roka’at dengan witirnya
Catatan : untuk sholat ‘Ied, Kusuf dan Istisqok disunnahkan khutbah sesudah sholat
b. Yang tidak disunnahkan berjama’ah :
1. Sholat Dhuha, berkata Abu Sa’id ra :
“ Adalah Rosulullah saw sering melaksanakan sholat dhuha, sehingga kami mengatakan
tidak pernah meninggalkannya “ ( HR. Tirmidzi )
Waktunya : setelah meningginya matahari hinga istiwak
Jumlah roka’atnya : minimal 2 roka’at dan maksimal 8 roka’at
2. Sholat Tahiyyatul Masjid, bersabda Rosulullah saw :
“ Apabila seseorang diantara kalian masuk masjid, maka janganlah duduk hingga sholat
dua roka’at “ ( HR. Jama’ah )
Waktunya : setiap kali masuk masjid
Jumlah roka’atnya : 2 roka’at dan terwakili dengan sholat wajib atau sholat sunnah
3. Sholat Tahajjud/sholat lail, bersabda Rosulullah saw :
“ Sebaik-baik sholat setelah sholat fardhu adalah sholat malam “ ( HR. Muslim )
Waktunya : tengah malam atau sepertiga akhir malam
Jumlah roka’atnya : disunnahkan 11 atau 13 roka’at dengan witir
4. Sholat Istikhoroh, bersabda Rosulullah saw :
“ Adalah Rosulullah saw mengajarkan kepada kita Istikhoroh dalam segala urusan “
( HR. Jama’ah kecuali Muslim )
Waktunya : diselain waktu yang dilarang sholat
Jumlah roka’atnya : 2 roka’at
5. Sholat Wudhu, bersabda Rosulullah saw :
“ Barang siapa yang berwudhu seperti wudhuku kemudian sholat 2 roka’at dgn khusyu’,
maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu (HR. Bukhori, Muslim dan yang lainnya )
Waktunya : sesudah wudhu
Jumlah : 2 roka’at
6. Sholat safar, bersabda Rosulullah saw :
“Rosulullah saw ketika datang dari safar mendatangi masjid terlebih dahulu lalu
melaksanakan sholat dua roka’at “ (HR.Bukhori & Muslim)
Waktunya : setelah kembali dari safar di masjid terdekat
Jumlah roka’atnya : 2 roka’at
7. Sholat Hajat, bersabda Rosulullah saw :
“ Barang siapa yg mempunyai hajat kpd Allah / kpd manusia, maka hendaklah berwudhu
dan menyempurnakannya kemudian sholat 2 roka’at..“ ( HR. Tirmidzi & Ibnu Majah )
Waktunya : diselain waktu yang dilarang sholat
Jumlah roka’at : 2 roka’at
8. Sholat Taubat, bersabda Rosulullah saw :
“ Tiadalah seorang berbuat dosa kemudian berwudhu dan sholat kemudian istighfar
kepada Allah, kecuali Allah akan menganpuni dosanya.. “ ( HR. Abu Daud, Nasai, Ibnu
Majah, Tirmidzi dan Baihaqi )
Waktunya : diselain waktu yang dilarang sholat
Jumlah roka’atnya : 2 roka’at
Waktu Sholat
“Sesungguhnya sholat itu bagi kaum mukmin suatu kewajiban yang mempunyai waktu-waktu tertentu “ ( Q.S. 4 : 103 )
Dan secara rinci hal tersebut telah dijelaskan oleh Rosulullah saw dalam hadits Muslim dari shohabat Abdullah bin ‘Amr dan hadits Ahmad, Nasai dan Tirmidzi dari shohabat Jabir bin Abdullah, kurang lebih sebagaimana berikut :
1. Waktu Sholat Dhuhur ;
Dari tergelincirnya matahari dari tengah langit hingga bayangan suatu benda itu sama panjangnya dengan benda tersebut
2. Waktu Sholat ‘Ashr ;
Dari berakhirnya waktu dhuhur hingga terbenamnya matahari
3. Waktu Sholat Maghrib ;
Dari berakhirnya waktu ‘Ashr hingga terbenamnya syafaq atau hilangnya awan merah
4. Waktu Sholat ‘Isyak ;
Dari berakhirnya waktu maghrib dan berlangsung hingga :
a. Seperdua malam ( waktu ikhtiyar )
b. Waktu Fajar ( waktu jawaz )
5. Waktu Sholat Shubuh ;
Dari terbitnya fajar shodiq hingga terbitnya matahari
Catatan
1. Dari rincian waktu-wahtu sholat tersebut disimpulkan bahwa waktu sholat itu berakhir dengan masuknya waktu sholat berikutnya, kecuali waktu sholat shubuh karena waktu sholat shubuh berakhir dengan terbitnya matahari, sebagaimana dijelaskan Rosulullah saw dalam sabdanya :
“ Ketahuilah bahwa tidur itu tidaklah berarti lalai, yang dikatakan lalai ialah orang yang belum sholat hingga datangnya sholat berikutnya “ ( H.R. Muslim )
“ … Dan waktu sholat shubuh mulai terbit fajar hingga terbitnya matahari, jika matahari telah terbit, maka hentikanlah sholat karena ia terbit diantara dua tanduk syetan “ ( H.R. Muslim )
2. Secara umum sholat lebih utama didirikan diawal waktunya, kecuali sholat ‘isyak (lebih baik dita’khirkan hingga sepertiga malam atau tengah malam) dan sholat dhuhur (lebih utama dita’khirkan pada musim panas), berdasarkan sabda Rosulullah saw sebagai berikut :
“ Sholat diawal waktu adalah ridho Allah dan diakhir waktu adalah ampunan Allah “ (H.R. Tirmidzi )
“ Seandainya tidak memberatkan ummatku tentu akan aku perintahkan mereka untuk menta’khirkan isyak hingga sepertiga malam atau seperdua malam “ ( HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi )
“ Adalah Nabi saw menyegerakan sholat bila hari sangat dingin dan menta’khirkan sholat bila hari panas “ ( HR. Bukhori )
WAKTU-WAKTU YANG DILARANG SHOLAT
Ada 5 ( lima ) waktu yang kita dilarang untuk mendirikan sholat, sebagaimana dijelaskan dalam 2 hadist Rosulullah saw sebagai berikut :
“ Tidak boleh sholat setelah sholat ‘Ashr hingga terbenam matahari, dan tidak boleh sholat setelah sholat shubuh hingga terbit matahari “ ( H.R. Bukhori dan Muslim )
“ Ada 3 waktu dimana Rosulullah saw melarang kita untuk sholat dan menguburkan mayat : ketika matahari terbit dengan benderang hingga meninggi, ketika ia tepat berada ditengah langit dan ketika ia condong hendak terbenam hingga terbenam “ ( H.R. Jama’ah kecuali Bukhori )
Kelima waktu yang dilarang untuk sholat tersebut adalah sebagai berikut :
1. Sesudah sholat shubuh hingga terbitnya matahari
2. Sewaktu matahari terbit hingga meninggi
3. Ketika matahari tepat ditengah langit
4. Sesudah sholat ‘ashr hingga matahari terbenam
5. Ketika matahari condong hendak terbenam
Pendapat para Fuqoha’ mengenai sholat sesudah Shubuh dan ‘Ashr :
Jumhur Ulama’ memperkenankan untuk meng-qodho’ sholat yang terlupa atau karena tertidur dan sholat sunnah thowaf, berdasarkan sabda Rosulullah saw sebagaimana dalam hadits berikut :
“ Barang siapa yang tertidur sehingga tidak sholat atau lupa untuk mengerjakan sholat, maka hendaklah ia sholat pada saat ia ingat . . “ (HR. Bukhori dan Muslim)
dan
“ Wahai keluarga Abdi Manaf, janganlah melarang siapapun yang melaksanakan thowaf dan sholat di rumah ini ( Masjid al Harom ) kapanpun ia kehendaki, baik dimalam hari atau disiang hari ( HR. Ashabus Sunan ).
Adapun sholat sunnah di kedua waktu tersebut menurut Jumhur Ulama’ tidak diperkenankan, kecuali menurut Imam Syafi’i yang membolekan sholat sunnah yang mempunyai sebab
Pendapat Fuqoha’ mengenai sholat saat terbit dan terbenamnya matahari serta sholat pada waktu istiwa’ ( matahari tepat ditengah langit ) :
- Golongan Hanafi : Tidak sah sholat sunnah apapun, kecuali sholat jenazah dan sujud tilawa
- Golonga Maliki : Harom sholat apapun di dua waktu ( terbit dan terbenamnya matahari ) dan diperbolehkan sholat fardhu, Adapun waktu istiwa’ maka diperbolehkan untuk melakukan sholat tahiyatul masjid
- Golongan Syafi’i : Makruh melaksanakan sholat sunnah tanpa sebab, dan diperbolehkan untuk sholat fardhu dan sholat sunnah yang mempunyai sebab, sebagaimana juga diperbolehkan untuk sholat di Masjd al Harom
- Golongan Hambali : Tidak sah sholat sunnah apapun, kecuali sholat tahiyyatul masjid waktu istiwa’ hari jum’at dan sholat jenazah bila dikhawatirkan berubah
Do’a & Dzikir dalam Sholat
BEBERAPA DO’A/ DZIKIR
A. Do’a Iftitah/ pembuka, diantaranya :
B. Dzikir Ruku’, diantaranya :
C. Dzikir Sujud, diantaranya :
D. Do’a sebelum salam, diantaranya :
BEBERAPA DZIKIR YANG BIASA DIBACA NABI SAW BA’DA SHOLAT :
SESUDAH SHOLAT SHUBUH DAN MAGHRIB DITAMBAH DZIKIR BERIKUT :
Arti dan Hukum Sholat
Pengertian Sholat :
1. Arti bahasa :
- Do’a ( QS. 9 : 103 )
- Aturan / hukum ( QS. 11 : 87 )
- Rohmat ( QS. 33 : 56 )
2. Arti istilah :
Ucapan dan perbuatan khusus yang diawali dengan takbir dan diakhir dengan salam
Dasar Hukum Sholat :
a. Al Qur’an : 2 : 43
b. Al Hadits :
“ Islam dibangun diatas lima pilar : Kesaksian bahwa tidak ada Dzat yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan berpuasa romadhon “ ( HR. Bukhori dan Muslim )
c. Ijma’
Posisi Sholat :
1. Tiang penyangga agama Islam dan ikatannya yang paling besar
2. Ibadah yang pertamakali diwajibkan
3. Amal yang pertamakali dihisab
4. Pembatas antara iman dan kufur
Barometer sempurnanya sholat :
1. Kontinyuitas dalam pelaksanaannya ( QS. 70 : 22-23 )
2. Kemampuan dalam menjaga adab-adabnya ( QS. 23 : 9 )
3. Khusu’ dalam pelaksanaannya ( QS. 23 : 2 )
4. Kemampuan dalam menegakkan haknya ( QS. 29 : 45 )
Syarat dan Rukun Sholat
Syarat-syarat sholat :
a. Syarat-syarat wajib :
1. Islam
2. Baligh
3. Berakal
b. Syarat-syarat sah :
1. Mengetahui masuknya waktu sholat
2. Suci dari hadats ( kecil dan besar )
3. Suci dari najis
4. Menutup aurot
5. Menghadap kiblat
6. Niat
Rukun-rukun sholat :
1. Takbirotul ihrom
2. Berdiri bagi yang mampu ( sholat fardhu )
3. Membaca Al Fatihah
4. Ruku’
5. Bangkit dari ruku’ dan berdiri lurus ( i’tidal )
6. Sujud dua kali setiap roka’at
7. Duduk diantara dua sujud
8. Duduk akhir dengan membaca tasyahhud
9. Salam
10.Thuma’ninah
11.Tertib
Wajib-wajib sholat :
1. Membaca Al Qur’an setelah Al Fatihah pada roka’at pertama dan kedua
2. Membaca tasmi’ dan tahmid ketika bangkit dari ruku’
3. Membaca dzikir ruku’
4. Membaca dzikir sujud
5. Membaca takbir ketika berpindah kerukun yang lain
6. Membaca tasyahhud awal
7. Membaca dengan jahr/keras pada sholat subuh, maghrib dan isyak pada roka’at pertama dan kedua
8. Membaca sholawat atas Nabi setelah tasyahhud akhir
Sunnah-sunnah sholat :
1. Mengangkat kedua tangan
2. Meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri
3. Membaca do’a iftitah
4. Membaca isti’adzah
5. Membaca Amiin
6. Meletakkan tangan sebelum lutut ketika sujud, mengangkat lutut sebelum tangan ketika bangkit dri sujud
7. Duduk diantara dua sujud dengan iftirosy dan meletakkan telapak tangan diatas paha
8. Membaca do’a ketika duduk diantara dua sujud
9. Membaca do’a diwaktu sujud (selain doa wajib)
10.Membaca do’a sebelum salam
11.Menengok kekanan kemudian kekiri pada saat salam
a. Syarat-syarat wajib :
1. Islam
2. Baligh
3. Berakal
b. Syarat-syarat sah :
1. Mengetahui masuknya waktu sholat
2. Suci dari hadats ( kecil dan besar )
3. Suci dari najis
4. Menutup aurot
5. Menghadap kiblat
6. Niat
Rukun-rukun sholat :
1. Takbirotul ihrom
2. Berdiri bagi yang mampu ( sholat fardhu )
3. Membaca Al Fatihah
4. Ruku’
5. Bangkit dari ruku’ dan berdiri lurus ( i’tidal )
6. Sujud dua kali setiap roka’at
7. Duduk diantara dua sujud
8. Duduk akhir dengan membaca tasyahhud
9. Salam
10.Thuma’ninah
11.Tertib
Wajib-wajib sholat :
1. Membaca Al Qur’an setelah Al Fatihah pada roka’at pertama dan kedua
2. Membaca tasmi’ dan tahmid ketika bangkit dari ruku’
3. Membaca dzikir ruku’
4. Membaca dzikir sujud
5. Membaca takbir ketika berpindah kerukun yang lain
6. Membaca tasyahhud awal
7. Membaca dengan jahr/keras pada sholat subuh, maghrib dan isyak pada roka’at pertama dan kedua
8. Membaca sholawat atas Nabi setelah tasyahhud akhir
Sunnah-sunnah sholat :
1. Mengangkat kedua tangan
2. Meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri
3. Membaca do’a iftitah
4. Membaca isti’adzah
5. Membaca Amiin
6. Meletakkan tangan sebelum lutut ketika sujud, mengangkat lutut sebelum tangan ketika bangkit dri sujud
7. Duduk diantara dua sujud dengan iftirosy dan meletakkan telapak tangan diatas paha
8. Membaca do’a ketika duduk diantara dua sujud
9. Membaca do’a diwaktu sujud (selain doa wajib)
10.Membaca do’a sebelum salam
11.Menengok kekanan kemudian kekiri pada saat salam
Penyebab Batalnya Sholat
1. Berbicara
2. Makan dan minum
3. Melakukan perbuatan/gerakan yang banyak dan berkesinambungan
4. Membelakangi kiblat
5. Terbukanya aurot
6. Berhadats kecil atau besar
7. Terkena najis
8. Terbahak-bahak dalam sholat
9. Pingsan, gila dan murtad
10.Merubah niat
11.Meninggalkan rukun tanpa diqodho’ atau syarat tanpa udzur
12.Mendahului imam dalam melakukan gerakan
13.Kemampuan untuk memakai air bagi yang sholat dengan tayammum
14.Salam dengan sengaja sebelum sempurnanya sholat
Langganan:
Postingan (Atom)











